JASMERAH

Jangan sekali-sekali melupakan sejarah brow....

Kamis, 19 Juli 2012

Sejarah Lokal (Sejarah Desa Ped "Pura Dalem Ped", Nusa Penida)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
          Indonesia merupakan negara kepulauan. Ribuan kepulauan yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam. Salah satu pulau yang ada di Indonesia adalah pulau Bali yang merupakan pulau seribu pura. Namun, di Pulau Bali pun ada beberapa pulau kecil lainnya, salah satunya Pulau Nusa Penida. Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang hanya ada satu kecamatan yang memiliki daerah wisata yang tergolong digemari oleh para wisatawan asing maupun domestik disamping juga memiliki sejarah yang unik di berbagai daerah yang ada di Nusa Penida, seperti sejarah Desa Ped. Desa Ped merupakan sebuah desa yang berada di pesisir pantai yang terdiri dari dua belas banjar. Memang awalnya sejarah Desa Ped masih simpang siur, hal ini disebabkan karena minimnya sumber. Namun berbagai cara telah dilakukan agar sejarah Desa Ped ini bisa diketahui. Akan tetapi, tahun berdirinya masih belum diketahui secara pasti.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimana Kependudukan Desa Ped ?
1.2.2        Bagaimana asal kata “Ped” ?
1.2.3        Bagaimana Sejarah Pura Dalem Penataran Ped ?
1.2.4        Bagaimana Sejarah Hubungan Pura Dalem Penatara Ped dengan Dalem Dukut ?

1.3  Tujuan
1.3.1        Untuk mengetahui kependudukan Desa Ped.
1.3.2        Untuk mengetahui asal kata “Ped”.
1.3.3        Untuk megetahui Sejarah Pura Dalem Penataran Ped.
1.3.4        Sejarah Hubungan Pura Dalem Penataran Ped dengan Dalem Dukut.
     


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kependudukan Desa Ped
            Desa Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa banjar. Dusun Sental terdiri dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental Kawan, Dusun Seming terdiri dari dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar Serangen, Dusun Pendem terdiri dari Banjar Pendem dan Banjar Bodong, Dusun Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan, Dusun Biaung terdiri dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar Prapat, Banjar Bias dan Banjar Nyuh. Sehingga bisa dilihat dari enam dusun yang di Desa Ped ada sebanyak dua belas banjar. Jumlah penduduk secara keseluruhan 4.976 orang (data sensus penduduk 2011). Luas Desa Ped yakni 21,15 ha dengan batas-batas wilayah, sebelah Utara yakni laut, Selatan Desa Klumpu, Timur Desa Kutampi, Barat Desa Sakti dan Toye Pakeh.
            Sistem mata pencaharian di Desa Ped dominan seorang petani rumput laut. Jika kita lihat melalui presentase, 60% petani rumput laut, 10% pedagang, 20% petani sekaligus peternak sapi, 10% pegawai negeri. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk yang berasal dari pesisir pantai. Penduduk yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai yakni dari Timur ke Barat, banjar Sental Kangin, banjar Sental Kawan, sebagian penduduk banjar Seming tinggal di pesisir pantai, selebihnya tinggal di perbukitan yang mata pencahariannya petani musiman dan peternak sapi dan ayam, begitu juga sebagian kecil banjar Serangen, namun sebagian besar penduduk banjar Bodong, banjar Pendem, banjar Adegan, banjar Bias, banjar Prapat, dan banjar Nyuh yang tinggal menetap di pesisir pantai.

2.2       Asal Kata Desa Ped
            Penulis menggunakan beberapa jenis sumber untuk mengetahui apa sebenarnya asal kata Desa Ped itu sendiri. Sumber yang digunakan  diantaranya beberapa sumber lisan dan beberapa sumber tertulis lainnya. Dari hasil wawancara penulis kepada seorang kakek sekaligus mantan Perbekel Desa Ped yang menjabat dari tahun 1960-1965 yaitu I Wayan Regeh menyatakan bahwa kata “Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan. Beriringan yang dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang terkenal ke pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa. Dulu bernama Pura Dalem Nusa tetapi sudah ada pergantian nama setelah Ida Pedanda Abiansemal beriringan (mapeed) ke Pura Dalem Nusa kemudian digantikan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung menjadi Pura Dalem Ped. I Wayan Regeh mengetahui hal ini dari membaca sebuah buku yang berjudul Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped” yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata, tetapi sayangnya buku ini sudah hilang dipinjam oleh seseorang. Selain itu juga, I Wayan Regeh juga mengetahui dari sumber lisan yang sempat ia lakukan melalui seorang pemangku pemucuk Desa Ped. (Sumber: I Wayan Regeh.23 Oktober 2011).
            Dengan adanya pernyataan I Wayan Regeh maka untuk mengetahui Sejarah Desa Ped tidak terlepas dari sejarah sebuah pura yang terkenal di pelosok Bali ini yang merupakan salah satu pura kahyangan di Bali sekaligus terkenal angker yaitu Pura Dalem Ped atau Pura Penataran Ped. Dari beberapa sumber lisan yang penulis temukan, salah satunya Jro Mangku Putu Lingga yang merupakan salah satu pemangku pemucuk Pura Dalem Ped menyatakan bahwa kelompok-kelompok penduduk dulu (sebelum menjadi sebuah banjar) yang ada di dekat ataupun di sekitar lingkungan Pura Dalem Ped menjadi pengempon Pura Dalem Ped ini. Beberapa dusun yang menjadi pengempon Dalem Ped pada waktu itu sampai sekarang yaitu seperti diuraikan sebelumnya enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped. Dusun Sental terdiri dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental Kawan, Dusun Seming terdiri dari dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar Serangen, Dusun Pendem terdiri dari Banjar Pendem, Dusun Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan, Dusun Biaung terdiri dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar Prapat, Banjar Bias dan Banjar Nyuh.

2.3 Sejarah Pura Dalem Penataran Ped
            Pura Dalem Ped merupakan salah satu pura kahyangan jagad yang terkenal di pelosok Bali sehingga masyarakat Bali berbondong-bondong tangkil ke Pura Dalem Ped ini. Pura Dalem Ped tepat berada di pesisir pantai Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
            Sejarah Desa Ped tergolong sangat unik. Dalam penulisan sejarah Desa Ped ini, penulis hanya menggunakan sumber lisan, artefak dan selebihnya dari berbagai media. Hal ini disebabkan karena penulis tidak menemukan sumber tertulis yang bisa dijadikan sumber. Artefak yang dimaksud di sini adalah adanya tiga buah tapel yang sekarang di’linggih’kan di Pura Dalem Ped. Seperti uraian di atas, dengan adanya tiga buah tapel ini melahirkan sebuah nama “Ped”, yang pada awalnya dari kesaktian tiga buah tapel yang sangat populer ke pelosok Bali pada saat itu dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa. Dulu bernama Pura Dalem Nusa tetapi sudah ada pergantian nama setelah Ida Pedanda Abiansemal beriringan (mapeed) ke Pura Dalem Nusa kemudian digantikan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung menjadi Pura Dalem Ped.
            Informasi tentang keberadaan Pura Dalem Ped atau Pura Penataran Ped pada awalnya masih sangat simpang siur. Hal ini disebabkan karena dalam penggalian sumber untuk mencari informasi tentang keberadaan pura ini, sumber-sumber yang ada sangat minim. Dengan demikian hal ini memicu timbulnya perdebatan yang cukup lama di antara beberapa tokoh-tokoh spiritual. Perdebatan yang timbul yakni mengenai nama pura. Kelompok Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja Mangku Lingsir, menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran  Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.
      Menurut Dewa Ketut Soma seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, dalam tulisannya berjudul “Selayang Pandang Pura Ped” berpendapat, kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped, Jadi, satu pihak menonjolkan "penataran"-nya, satu pihak lainnya lebih menonjolkan "dalem"-nya.
            Kembali pada tiga buah tapel. Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal kehilangan ' tiga buah tapel. Begitu menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu, ternyata tapel tersebut adalah miliknya yang hilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.
            Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.
            Kemudian warga menggelar upacara mapeed. Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).
            Meski pun ada kata "dalem", namun bukan berarti pura tersebut mempakan bagian dari Tri Kahyangan. Yang dimaksudkan "dalem" di sini adalah merujuk sebutan raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling.
            Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Persembahyangan pertama yakni Pura Segara, sebagai tempat berstananya Bhatara Baruna, yang terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Persembahyangan kedua yakni Pura Taman yang terletak di sebelah selatan Pura Segara dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya yang berfungsi sebagai tempat penyucian. Kemudian persembahyangan ketiga yakni ke baratnya lagi, ada pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Persembahyangan terakhir yakni di sebelah timurnya ada Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Bhatara-bhatara pada waktu ngusaba.
            Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.
            Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran, kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua area yakni Area Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Area Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua area itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.
2.4 Sejarah Hubungan Pura Dalem Ped dengan Dalem Dukut
            Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa. Bagaimana hubungan kesejarahan antara Pura Dalem Peed dengan Dalem Dukut?
            Saat itu Dalem Nusa melepaskan wong samarnya mengalahkan Ngurah Peminggir dengan pasukannya. Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.
            Dalem Dukut atau ada juga sumber yang menyebut Dalem Bungkut bersedia menyerahkan Kerajaan Nusa melalui suatu cara yang terhormat dalam tata krama sebagai kesatria. Dua tokoh ini pun mengadakan perang tanding secara terhormat dengan tidak melibatkan prajurit dan rakyatnya. Mereka melakukan perang tanding secara kesatria tidak berdasarkan kebencian dan kesombongan akan kelebihan diri masing-masing.
            I Gusti. Jelantik Bogol dalam perang tanding itu menggunakan senjata pemberian kerajaan bernama ”Ganja Malela”. Dalam perang tanding itu senjata Ganja Malela I Gusti Jelantik Bogol patah. Hampir saja I Gusti Jelantik Bogol kalah. Cepat-cepat istrinya, Ni Gusti Ayu Kaler, memberikan senjata bartuah bernama Pencok Sahang. Melihat senjata Pencok Sahang ini Dalem Dukut sudah punya firasat bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke alam sunia lewat senjata Pencok Sahang.
            Peperangan pun dihentikan sementara dan Dalem Dukut menyatakan kepada I Gusti Jelantik Bogol bahwa ia akan kembali ke Sunia Loka lewat senjata Pencok Sahang itu. Dalem Dukut pun menyatakan menyerahkan segala kekayaan Nusa dengan rakyat dan wong samar-nya untuk mendukung Dalem Klungkung memajukan Klungkung.
            Senjata Pencok Sahang ini sesungguhnya adalah taring Naga Basuki. Ketika Ni Gst. Ayu Kaler mandi di Sungai Unda ada sepotong kayu bagaikan kayu bakar atau sahang yang selalu menujunya. Setiap kayu itu dijauhkan dari dirinya selalu balik kembali mendekati dirinya. Akhirnya kayu itu dipungut. Setelah dibelah ternyata di dalamnya terdapat sebuah keris yang belum jadi. Keris itulah bernama Pencok Sahang yang tiada lain adalah taring Naga Basuki sendiri.
            Perlu direnungkan latar belakang dari perang tanding Dalem Dukut dengan Jelantik Bogol. Dua orang ini sesungguhnya sudah saling kenal, bahkan bersahabat saat belum menjabat sebagai raja maupun patih. Saat ada panggilan tugas yang berbeda ini mereka kelola dengan bijak sesuai dengan swadharma kesatria. Saat Patih Jelantik Bogol datang ke Nusa membawa tugas Kerajaan Klungkung, Dalem Dukut menyambutnya dengan sangat ramah. Dalem Dukut menyatakan bahwa jangan karena ada tugas yang berlawanan terus persahabatan menjadi hilang. Demikian juga sebaliknya jangan karena sahabat terus swadharma ditinggalkan sebagai seorang kesatia. Patih Jelantik Bogol membawa pasukan dari Klungkung, tetapi tidak dengan kasar menyerang Kerajaan Nusa. Jelantik Bogol mengatakan pendekatan diplomatik terlebih dahulu dengan cara-cara yang menghormati Dalem Dukut. Raja Nusa ini pun menyambut dengan baik. Dalem Dukut menjamu Patih Jelantik Bogol sebagai seorang teman.
            Dalam jamuan tersebut Dalem Dukut menyatakan bahwa Nusa tidak akan kalah kalau Dalem Dukut masih hidup, walaupun semua pasukan Nusa habis. Sebaliknya utusan Dalem Klungkung pun tidak akan kalah kalau Patih Jelantik Bogol tidak gugur di medan perang, meskipun semua pasukan Klungkung gugur dalam pertempuran.
            Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk tidak memberikan pasukannya masing-masing bertempur. Biarlah mereka bergembira membangun komunikasi persaudaraan demi Bali dan Nusa. Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk melakukan perang tanding dalam melakukan swadharma kesatria. Swadharma Patih Jelantik Bogol adalah menyukseskan misi Dalem Klungkung untuk menyatukan Nusa Penida ke dalam kekuasaan Klungkung, sedangkan Dalem Dukut memiliki swadharma untuk menjaga eksistensi kehormatan Kerajaan Nusa Penida.
            Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol perang tanding untuk melakukan swadharmanya masing-masing. Perang tanding itu bukan dilakukan karena kebencian, tetapi atas dorongan melakukan swadharma sebagai kesatria. Dalam melakukan swadharma tersebut mereka tetap juga menjaga persahabatan. Sebelum perang tanding dilangsungkan, Dalem Dukut pun menjamu I Gst. Ngurah Jelantik Bogol sebagai seorang sahabat dengan jamuan kehormatan. Pasukan Klungkung dan Nusa pun ikut berpesta dalam perjamuan tersebut.
            Setelah jamuan berlangsung barulah perang tanding dilakukan dengan cara-cara kesatria. Kedua pasukan hanya sebagai saksi perang tanding tersebut. Apalagi rakyat sipil tidak ada yang jadi korban dalam proses penguasaan Nusa oleh Dalem Klungkung. Sifat-sifat kesatria Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol ini patut menjadi renungan kita bersama dalam membangun Bali dalam proses dinamika kehidupan politik untuk mengutamakan sifat-sifat kesatria yang tidak mengorbankan rakyat kecil untuk mewujudkan tujuan mencapai kekuasaan maupun mencari kekayaan.
            Bersatunya Nusa dengan Bali menjadi satu sistem pemerintahan dalam proses yang sangat terhormat pada masa pemerintahan Dalem Klungkung. Tidak ada yang kalah menang dalam artian sempit. Dalem Dukut tidak mengerahkan pasukan wong samar-nya melawan I Gst. Jelantik Bogol. Kemungkinan Dalem Dukut melihat suatu kepentingan yang lebih besar dan lebih mulia yaitu bersatunya alam dan rakyat Nusa dengan Bali. Persatuan ini akan membawa kedua daerah lebih mudah maju membangun kesejahteraan hidup bersama antara rakyat Bali dan Nusa Penida lahir batin.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
            Desa Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa banjar.
            Kata “Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan. Beriringan yang dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang terkenal ke pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.
            Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.
            Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa.
            Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.















DAFTAR PUSTAKA

Madani, Kharisma.2010. Sejarah Pura Penataran Dalem Agung Ped. Atmosfer Kekuatan (tabik pekulun) Ratu Gede Nusa. www.google.com. diunduh pada tanggal 2 November 2011
Soma, Dewa Ketut. 2010 “Selayang Pandang Pura Ped”. Klungkung
Wahyudi, Gede. 2011. PURA DALEM PED. www.google.com. diunduh pada tanggal 2 November 2011

           





Tokoh-tokoh wanita dalam dunia sejarah


A.   Zaman Masuknya Pengaruh Hindu Budha dan Islam di Indonesia

WANITA KEPALA NEGARA
            Sejarah Nusantara ternyata mencatat banyak wanita yang sukses menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan (mulai dari zaman kerajaan-kerajaan yang pernah ada). Sejak 1.300 tahun yang lalu, wanita telah berhasil menjadi pemimpin salah satu negara di Nusantara ini yang sangat dihormati, bahkan ditakuti kekuatan dan keperkasaanya. Bukti-bukti sejarah tersebut seharusnya membuka mata sebagian kecil masyarakat dan bangsa yang juga masih meremehkan kemampuan wanita dalam berbagai bidang. Siapa sajakah wanita-wanita tokoh yang patut diteladani kepahlawanannya itu ?
1.      Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga (Keling) adalah raja wanita pertama yang memerintah pada kurun waktu 1.300 tahun yang lalu. Berita Cina dari Dinasti Tang mengatakan bahwa kerajaan Holing (Kalingga) di Pulau Jawa ini sangat kuat. Orang Ta-Shih pada tahun 674 M mengurungkan niatnya untuk menyerang Negara  ini disebabkan oleh keperkasaan Kalingga. Diberitakan pula bahwa di bawah pemerintahan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga menjadi pemerintahan Negara yang sangat menjunjung tinggi hokum. Bahkan, pernah saudara ratu sendiri terpaksa harus dihukum karena berani melanggar peraturan.
2.      Syri Iayanattunggawijaya adalah seorang ratu yang pernah memerintah Kerajaan Medang pada tahun 947 M. dia naik tahta menggantikan ayahnya, Mpu Sindok (929-947 M). ratu ini juga dikenal sebagai Dewi Kilisuci. Pada akhir masa pemerintahannya, beliau mengundurkan diri dari tahta dan hidup sebagai pertapa.
3.      Sri Sanggamawijayatunggawarman, yakni ratu yang pernah memerintah Kerajaan Sriwijaya. Sayangnya, pada tahun 1025 M, ratu kerajaan Sriwijaya ini dikalahkan dan ditaklukkan dalam peperangan oleh Rajendrachola I, raja dari kerajaan Cola.
4.      Putri Nurul A’la. Beliau adalah seorang yang pernah menjadi perdana menteri wanita di Kerajaan Islam Perlak, mendampingi suaminya Sultan Makhdum Alaiddin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat (1108-1134 M). sebagai perdana menteri atau kepala pemerintahan, seluruh urusan pemerintahan di bawah tanggung jawab sang putrid. Pada saat itu pula, yang memegang keuangan Negara (menteri keuangan) juga seorang wanita, yakni Putri Nurul Qodimah.
5.      Laksamana Maharani. Beliau merupakan seorang laksamana dari Kerajaan Seudu. Dia seorang laksamana yang memeluk agama Islam setelah mendapatkan dakwah dari Sultan Makhmud Alaiddin Muhammad Syah Jauhan Berdaulat (1170-1196) dari Kerajaan Islam Perlak. Beliau merupakan laksamana wanita yang perkasa dan terkenal pada saat itu.
6.      Syah Alam Barinsyah. Wanita Islam nusantara pertama yang tercatat menjadi ratu adalah Syah Alam Barisyah (1196-1225). Beliau yang memerintah Kerajaan Islam Perlak. Dia naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Jauhan Berdaulat yang jatuh sakit dan kemudian lumpuh. Dalam melaksanakan pemerintahan, beliau dibantu oleh adiknya, yakni Abdul Aziz Syah sebagai perdana menteri.
7.      Dyah Gayatri (Rajapatni) tercatat sebagai ratu yang sukses di Kerajaan Majapahit. Dyah Gayatri adalah istri Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Majapahit. Dia naik tahta setelah wafatnya raja Majapahit yang kedua, Jayanegara (1309-1328). Akan tetapi, karena pada saat itu dia telah menjadi seorang pertapa, urusan pemerintahan kemudian diserahkan kepada putrinya, Sri Gitarya Tribhuanatunggadewi Jayawisnu Wardhani (1328-1350 M). pemerintahan Dyah Gayatri berhasil mempersiapkan Majapahit menjadi Negara terkuat di Nusantara setelah Hayam Wuruk (1350-1389) diangkat menjadi raja Majapahit IV. Tujuan menjadi Negara yang kuat itupun dapat terlaksana dengan lebih mudah. Pada masa pemerintahannya, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang sangat terkenal. Selanjutnya, baru pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tercapai aoa yang menjadi sumpahnya Gajah Mada.
8.      Dyah Suhita (1400-1447) menjadi ratu di kerajaan Majapahit yang merupakan cucu Hayam Wuruk. Selama tahun 1402-1429, Dyah Suhita dibantu ayahnya Wikrama Wardhana dalam menjalankan pemerintahan dan memadamkan pemberontakan Bhre Wirabhumi (1401-1406).
9.      Sultanah Nahrasiyah (1405-1406). Beliau merupakan ratu ketujuh dari Kerajaan Islam Samudra Pasai.
10.  Ratu Anchesiny (1530-1549) dari Kerajaan Haru (Ghori/Guni). Beliau merupakan istri dari Sultan Husin II, yang kemudian menjadi ratu menggantikan suaminya yang meninggal dunia dalam peperangan melawan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Qohhar (1537-1536) dari Aceh Darussalam. Setelah menikah lagi dengan Sultan Alauddin Riayat Syah II dari kerajaan Malaka, beliau kemudian berhasil merebut kiembvali negaranya dari Kerajaan Aceh Darrussalam selama beberapa waktu kemudian.
11.  Ratu Putri Hijau yang berasal dari Kerajaan Aru, dengan ibu kotanya   Deli Tua (Sumatra Timur). Namun dalam suatu peperangan, beliau menyerah saat diserang oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dari Aceh Darussalam.
12.  Laksamana Keumalahayati (1589-1606) dari Aceh Darussalam yang menjadi panglima angkatan bersenjata yang sangat dihormati, bahkan oleh armada perang dari Eropa. Wanita laksamana ini hidup pada masa sultan Saidil Mukammil (1589-1604). Dalam sejarah beliau pernah memimpin satu armada yang terdiri atas lebih dari 100 kapal perang laut yang sangat kuat dengan 400 prajurit yang siap tempur. Sejarah mencatat pada 21 Juni 1599, laksamana ini berhasil menewaskan pemimpin armada kerajaan Belanda, Cornelis de Houtman.
13.  Sri Putri Alam Permaisuri Sultan Tajul’ Alam Safiatuddin Syah (1641-1675) adalah ratu yang pernah memerintah di Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Dia naik tahta kerajaan Aceh Darussalam menggantikan suaminya Raja Aceh Darussalam, Sultan Iskandar Thani yang mangkat (1636-1641). Dalam sejarah, beliau terkenal ndengan nama Ratu Safiatuddin.
14.  Setelah masa Ratu Safiatuddin, ada tiga ratu lagi yang berturut-turut memimpin Aceh Darussalam, yaitu Sultanah Nurul Alam Nakiyatuddin Syah (1675-1678), Sultanah Inayat Zakiyyatuddin Syah (1678-1688), dan Sultanah Kamalat Syah (1688-1699).
            Dari deretan wanita perkasa tersebut, tercatat delapan orang ratu (61,5% lebih) memerintah Kerajaan Islam, empat orang wanita memerintah kerajaan bercorak Hindu dan seorang menjadi ratu di Kerajaan bercorak Budha. Tercatat pula, satu dari dua wanita yang menjadi kepala pemerintahan (perdana menteri) di Negara bercorak Islam.

B.   Masa Kolonialisme dan Nasionalisme
WANITA PAHLAWAN
15.  Nyi Ageng Serang
            Salah satu seorang wanita Indonesia yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Beliau bernama asli R.A Kursiah Retno Edhi lahir pada tahun 1752 di Serang, dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Sebagai putrid dari Pangeran Natapraja yang pernah mendampingi Sultan Hamengkubuwono I, beliau pernah ikut bertempur melawan Belanda. Dalam pertempuran itu, dia tertawan dan di bawa ke Yogyakarta, tetapi dikembalikan lagi ke Serang. Ketika berusia 73 tahun, bersama cucunya, R.M. Papak, dia bergabung dan ikut berperang dengan pasukan Diponegoro dan diangkat sebagai pinisepuh, disamping Pangeran Mangkubumi. Beliau sekaligus sebagai penasihat perang.
            Dengan Pasukan Nataprajan, dia bergerak di daerah Serang, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, Juwana, dan Semarang. Pernah pula pasuka tersebut ditugasi oleh Pangeran Diponegoro untuk mempertahankan daerah Prambanan. walau usianya sudah lanjut, dengan cara ditandu, Nyi Ageng tetap gigih terlibat pertempuran fisik dengan pasukan Belanda. Atas anjuran Nyi Ageng juga, pasukan Diponegoro menggunakan daun limbu dalam pertempuran. Daun itu dapat digunakan sebagai pelindung kepala dan juga sekaligus untuk menyamar agar tidak mudah diketahui oleh pasukan Belanda.
            Karena usianya yang makin lanjut dan kondisi fisiknya makin lemah, Nyi Ageng akhirnya mengundurkan diri dari medan perang. Beliau kembali ke keluarga Nataprajan di Yogyakarta, sampai akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 1828.
16.  Martha Khristina Tiahahu (1801-1818)
            Salah seorang wanita Indonesia yang diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Beliau dilahirkan di Nusa Laut, Kepulauan Maluku pada tahun 1801. Dia merupakan putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu dan selalu mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran, begitu pula pertempuran merebut benteng Beverwijk. Namun demikian, api perlawanan penduduk Nusa Laut akhirnya dapat juga dipatahkan oleh Belanda. Merejka berhasil merebut kembali benteng Beverwijk dalam pertempuran yang berlangsung pada 10 November 1817. Sesudah itu, Belanda melancarkan operasi besar-besaran. Martha Khristina dan ayahnya serta beberapa orang pimpinan perlawanan tertangkap. Mereka kemudian diperiksa dalam pengadilan, Kapita Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati. Martha Khristina meminta kepada penguasa Belanda suopaya diizinkan menggantikan ayahnya menjalani hukuman tersebut, namun permintaan itu ditolak.
            Pada 17 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu menjalani hukuman mati. Dengan tenang dan tabah, Martha Khristina menyaksikan pelaksanaan hukuman tersebut terhadap ayahnya. Tiada setetes pun air matanya mengalir. Setelah kejadian itu, ia berusaha mengumpulkan kembali para pengikut dan menyusun kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. Tidak lama kemudian, akhirnya dia tertangkap juga sebelum sempat mengobarkan perlawanan bersama-sama dengan 39 orang lainnya. Dia dan pengikutnya dijatuhi hukuman buang ke pulau Jawa serta menjalani kerja paksa di perkebunan kopi.
            Sebelum berangkat ke tanah Jawa, Belanda membujuknya supaya Martha Khristina mau bekerjasama. Bujukan itu ditolak dan di atas kapal yang akan membawanya ke pulau Jawa, ia jatuh sakit, tetapi menolak untuk diobati oleh orang Belanda.
            Pada tengah malam, tepatnya tanggal 1 menjelang tanggal 2 Januari 1818, Martha Khristina Tiahahu, wanita pahlawan yang berhati baja itu, meninggal dunia dalam pelayaran ke tempat pembuangan. Jenazahnya dilemparkan ke laut Maluku, antara Pulau Buru dan Pulau Tiga.
17.  Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872-1946)
            Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia. Beliau lahir pada 1872 di Desa Pesantren Kauman, Yogyakarta. Kecintaan terhadap Aisyiyah bertitik tolak dari pengorbanan yang tiada tara dari istri pendiri organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yakni Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) dengan iman dan tauhid yang mendalam. Hajjah Siti Walidah berhasil membimbing dan memimpin kaum wanita Islam Indonesia mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia.
            Ayah beliau Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadhil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim, ulama besar yang disegani masyarakat yang memangku jabatan Penghulu Keraton Dalem Yogyakarta Hadiningrat.
            Bersama suaminya, beliau mengembangkan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Dua sejoli ini melakukan dakwah ke pedalaman-pedalaman seputar Jawa dan Sumatra. Siti Walidah selalu setia mendampingi sang suami mengemban misi keumatan. Nyai Dahlan adalah pemuka agama terkenal. Dia tidak bosan member ceramah dan pengajian, walaupun kehidupan keluarga cukup sederhana demi tegaknya ajaran Islam dan terangkatnya harkat serta martabat kaum wanita Indonesia.
            Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Nyai Dahlan memotivasi kaum wanita/santri untuk selalu mewaspadai segala bentuk penindasan dan kesenangan kaum colonial. Pondok pesantren digerakkannyasebagai alat perjuangan.
            Dalam bidang pendidikan, beliau menganjurkan organisasi Muhammadiyah di manapun berada mendirikan sekolah-sekolah umum. Sekolah tidak saja mempelajari masalah agama tetapi juga mata pelajajaran yang lain diikutsertakan.
            Sejarah mencatat kehebatan beliau, pada Muktamar Muhammad dan Aisyiyah di Surabaya tahun 1926, Siti Walidah berpidato yang menggemparkan rakyat Surabaya dan sekitarnya. Sejak itu, dia dianggap lebih dari seorang wanita serigala podium (ahli pidato) yang dapat membangkitkan semangat perjuangan untuk bangkit dari ketertindasan kaum penjajah. Ia juga sekaligus wanita ulet dan gesit yang membuat penjajah Belanda membuat perhitungan dengannya, dengan ancaman dan peringatan.
18.  Maria Walanda Maramis (1872-1924)
            Beliau adalah salah satu Pahlawan Pergerakan Nasional. Beliau dikenal dengan nama Mari Yosephine Catheria Maramis dilahirkan di Kema, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Pada usia enam tahun dia sudah menjadi anak yatim piatu. Sejak saat itu dia diasuh oleh pamannya. Maria banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar, seperti Pendeta Ten Hove. Karena pergaulan itu, walaupun dia tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, pengetahuannya bertambah luas dan memiliki cita-cita memajukan kaum wanita Minahasa. Perkawinannya dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda, seorang guru HIS Manado tahun 1890, membuka kesempatan besar baginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan bantuan suami dan beberapa orang terpelajar lainnya, pada Juli 1917, ia mendirikan organisasi diberi nama Percintaan Ibu kepada Anak Turunannya (PIKAT). Tujuan organisasi ini adalah mendirikan sekolah-sekolah rumah tangga untuk mendidik anak-anak wanita yang telah menamatkan Sekolah Dasar.
19.  Hj. Rasuna Said (1910-1965)
            Hj. Rasuna Said digelari Pahlawan Nasional. Beliau juga dikenal dengan panggilan Rangkayo Hj. Rasuna Said. Beliau dilahirkan di Maninjau, Sumatra Barat pada 14 September 1910. Setelah lulus Sekolah Desa di Maninjau, dia meneruskan pendidikan ke Diniyah School di Padang Panjang. Selain itu dia belajar pula di sekolah rumah tangga untuk anak-anak wanita da di sekolah Thawalib.
            Dalam dunia pergerakan, Rasuna Said termasuk kaum muda yang berpikiran maju. Awalnya dia memasuki Sarekat Rakyat dan diangkat sebagai sekretaris cabang. Pada 1930, dia memasuki Permi (Persatuan Muslimin Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Muslimin Indonesia) yang berhaluan Islam dan Nasionalis. Dalam Permi itu dia menjabat anggota Pengurus Besar.
            Beliau terkenal pandai berpidato. Pidato-pidatonya selalu berisi membangkitkan semangat perjuangan serta kecaman terhadap pemerintah penjajahan Belanda, sehingga pidatonya sering dihentikan oleh penguasa kolonial. Karena pidatonya diangga membahayakan kekuasaan Belanda, dia pernah ditangkap pada tahun 1932 dan sempat dipenjarakan di Semarang.
            Selain bergerak di bidang politik, beliau memajukan pendidikan dan berjuang untuk mencapai persamaan hak antara laki-laki dan wanita dengan mendirikan sekolah Thawalib Putri di Padang Panjang dan memimpin sekolah Kursus Putri. Setelah Permi bubar pada 1937, beliau pindah ke Medan dan juga berjuang di bidang pendidikan, antara lain dengan mendirikan Perguruan Putri. Selain itu, dia menjadi pemimpin majalah Menara Putri.
            Pada zaman pendudukan Jepang, dia kembali ke padang dan turut mendirikan pemuda Nippon Raya di Padang. Organisasi itu digunakan untuk menggembleng para pemuda agar berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Karena kegiatan organisasi itu, Pemuda Nippon Raya akhirnya dibubarkan oleh Jepang.
            Dalam masa perang kemerdekaan, Rasuna Said banyak menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk perjuangan. Dia pernah duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatra sebagai wakil daerah Sumatra Barat, di samping menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Bahkan, beliau kemudian diangkat menjadi anggota Badan Pekerja KNIP. Kemudian diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR-RIS) dan kemudian menjadi anggota DPR Sementara. Selain giat bergerak di bidang kewanitaan, antara lain dalam Perwari, pada 1959 dia diangkat pula menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.
            Beliau meninggal dunia di Jakarta pada 2 November 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
20.  Raden Dewi Sartika (1884-1947)
            Raden Dewi Sartika dikukuhkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Beliau dilahirkan di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884. Beliau berasal dari keluarga priyayi Sunda dan merupakan putrid Raden Somanegara yang meninggal dunia dalam pembuangan di Ternate karena melawan Pemerintah Belanda. Ayahnya merupakan mantan Patih Bandung.
            Beliau mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Sepeninggal ayahnya, beliau dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan pendidikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen Bangsa Belanda.
            Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca tulis dan bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di Kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikan alat bantu pelajaran.
            Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.
            Sejak tahun 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya yang menjadi materi pelajaran saat itu.
            Setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenegara, pada 16 Januari 1904, Dewi sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang yakni Dewi Sartika sendiri, yang dibantu dua saidara misannya yakni Poerwa dan Oewid.  Sekolah ini mendapat perhatian luas dari masyarakat. Siswanya semakin bertambah sehingga ruangannya tidak cukup untuk menampung mereka. Dengan demikian, Sakola Istri dipindahkan ke tempat yang lebih luas.
            Setahun kemudian, pada 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi sartika dengan uang tabungan pribadinya serta bantuan dana pribadi dari Bupati bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tidak jauh beda dengan laki-laki.
            Dewi Sartika berusaha mendidik anak-anak  gadis agar kelak mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik, mandiri, luwes, dan terampil. Pelajkaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikan. Ia harus membanting tulang untuk mencari dana utntuk biaya sekolah yang didirikannya. Sehingga kegiatan Dewi sartika banyak menarik perhatian kaum perempuan di tempat-tempat lain. Dengan demikian, beberapa wilayah-wilayah lainnya berdiri pula Sekola Istri.
            Pada masa Perang Kemerdekaan, kota Bandung diduduki oleh Belanda. Dewi Sartika terpaksa menghentikan kegiatan dan mengungsi ke Cinean. Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947 di Tasikmalaya dan dimakamkan di Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian, makamnya dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
21.  Cut Nyak Meutia (1870-1910)
            Cut Nyak Meutia dikukuhka sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan. Beliau lahir di Perak, Aceh, pada 1870. Ketika masa anak-anak, suasana perang mempengaruhi perjalanan hidup selanjutnya. Ayahnya merupakan ulubalang Perak, bernama Teuku Ben Daud. Beliau menikah dengan RTeuku Muhammad yang merupakan seorang pejuang yang lebih terkenal dengan nama Teuku Cik Tunong.
            Sekitar tahun 1900, peperangan rakyat Aceh dengan Belanda sedang berkecamuk, para pejuang Aceh sudah banyak yang gugur. Pada waktu itu, Cut Nyak Meutia bersama dengan suaminya memimpin perjuangan gerilya di daerah Pasai. Melalui pihak keluarga, Belanda berusaha membujuk agar Meutia menyerahkan diri kepada Pemerintah Belanda, namun bujukan itu tidak berhasil. Pada Mei 1905, Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan kemudian dijatuhi hukuman tembak.  Namun sesuai dengan pesan suaminya sebelum meninggal, Meutia kemudian kawin dengan Pang Nangru, seorang teman akrab dan kepercayaan teuku Cik Tunong. Bersama dengan suaminya yang baru, dia melanjutkan perjuangan melawan Belanda.
            Pada September 1910, Pang Nungru tewas dalam pertempuran di Paya Cicem, tetapi Cut Meutia masih dapat meloloskan diri. Akan tetapi, akhirnya beberapa orang teman Pang Nungru kemudian menyerahkan diri kepada Belanda. Meutia dibujuk supaya ikut menyerah pula, tetapi tetap menolak. Dengan seorang anaknya yang masih berumur sebelas tahun, bernama Raja Sabil, dia berpindah-pindah lagi di pedalaman rimba Pasai. Namun tetap persembunyiannya diketahui oleh pasukan Belanda.
            Pada 24 Oktober 1913, tempat persembunyiannya Meutia dikepung Belanda. Cut Nyak meutia mengadakan perlawanan dengan menggunakan sebilah rencong. Namun Meutia tertembak oleh Belanda dan akhirnya beliau gugur di tempat.
22.  Cut Nyak Dhien (1850-1908)
            Cut Nyak Dhien dikukuhkan sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964, tanggal 2 Mei  1964.
            Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang, Aceh Besar pada 1850. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, Ulubalang VI Mukim. Pada saat itu, dia dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda. Keadaan tersebut kemudian sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya.
            Cuut Nyak Dhien menikah pada usia muda dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Saat perang Aceh dan Belanda meletus pada 1873, pasangan suami istri itu sudah dikaruniai seorang anak. Pada Desember 1875, daerah VI Mukim diduduki Belanda. Beliau mengungsi ke tempat lain, berpisah dengan suami dan ayahnya yang terus melanjutkan perjuangan. Akhirnya, suaminya yakni Ibrahim Lamnga tewas dalam pertempuran di Gle Tarum pada Juni 1878.
            Cut Nyak Dhien bersumpah hanya akan kawin dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk menuntut balas kematian suaminya. Pada 1880, dia menikah untuk kedua kalinya dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Teuku mar adalah seorang pejuang Aceh yang terkenal. Namun Teuku Umar akhirnya gugur dalam suatu pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899.
            Akhirnya, Cut Nyak Dhien sendiri yang memimpin perang  melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Beliau adalah termasuk seorang pejuang yang pantang tunduk dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Dia adalah seorang wanita yang pemberani, yang tampil gagah perkasa di medan perang. Ahli sejarah Belanda, Zentgraaf, mengatakan bahwa Cut Nyak Dhien sebagai de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan sesungguhnya dalam perang besar di Aceh).
            Enam tahun lamanya Cut Nyak Dhien melakukan dengan bergerilya di daerah pedalaman Aceh. Pasukan Belanda berusaha menangkapnya, namun tidak berhasil. Akan tetapi lama kelamaan jumlah pasukannya semakin berkurang. Dan Cut Nyak Dhien pun semakin tua dan tidak berdaya sehingga anak buahnya merasa kasian melihat pemimpinnya. Dengan demikian, akhirnya Cut Nyak Dhien ditangkap. Dan pada 11 Desember 1906, beliau dibuang Belanda ke Sumedang, Jawa Barat.
            Di Sumedang, tidak banyak orang mengenal wanita tua renta yang menggunakan pakaian lusuh, membawa tasbih, dan membawa sebuah periuk nasi yang terbuat dari tanah liat. Melihat keadaan tersebut, Bupati tidak menempatkan di dalam penjara namun di rumah Haji Ilyas, seorang pemuka agama Islam . disanalah beliau tinggal dan dirawat.
            Kaum ibu dan anak-anak banyak yang bersimpatik kepada Cut Nyak Dhien dan memberikan makanan dan pakaian kepadanya. Namun, karena usia dan penyakitnya yang makin parah beliau akhirnya meninggal dunia pada 6 Nopember 1908.  Hingga wafatnya beliau, masyarakat belum banyak tahu tentang Cut Nyak Dhien. Barulah pada 1960-an, berdasarkan keteranga dari pemerintah Belanda bahwa Cut Nyak Dhien adalah seorang pejuang dari Aceh. Seketika itu masyarakat Sumedang menjadi semakin tahu bahwa wanita renta itu sesungguhnya wanita terhormat.
           
23.  Raden Ajeng Kartini (1879-1904)   
            Raden Ajeng Kartini merup[akan tokoh Pahlawan Pergerakan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini. Beliau dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
            Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
            Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
            Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
            Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
            Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
            Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.
24.  Siti Rahmiati Hatta
Gb.3. Bung Hatta Dan Siti Rahmiati Hatta
Siti Rahmiati Hatta, puteri bangsa kelahiran Bandung, 16 Februari 1926, menikah dengan Mohammad Hatta (Proklamator dan Wakil Presiden RI pertama) di Megamendung, Bogor, 18 November 1945. Ia pendamping Bung Hatta, setia sepanjang hidup, mengukir sejarah Indonesia dari belakang panggung. Siti Rahmiati meninggal di Jakarta, 13 April 1999. Siti Rahmiati Hatta menyelesaikan pendidikan Christelijke Lyceum (setingkat SMA) di Bandung.
Pertama kali bertemu dengan Bung Hatta pada saat ia berusia 17 tahun. Saat itu (1943), Bung Hatta bersama Bung Karno baru kembali dari pengasingan. Remaja putri Rahmi dan adiknya Raharty (putri Rachim), keduanya sebagai aktivis Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), ikut dalam upacara penyambutan di rumah Mr Sartono, tokoh pergerakan nasional. Saat itu, Rahmi dan Raharty bersalaman dengan Bung Hatta dan Bung Karno.
Dua tahun kemudian, hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Bung Karno melamarnya untuk bersedia mendampingi Bung Hatta. Rahmi dan Hatta pun resmi menikah di Megamendung, Bogor, 18 November 1945, hanya tiga bulan setelah proklamasi. Pernikahan ini dianugerahi tiga anak: Meuthia, Gemala, dan Halida. Rahmi mendampingi Bung Hatta (hingga wafat di Jakarta, 14 Maret 1980) selama 35 tahun, dalam senang dan susah. Sambil mendampingi Wakil Presiden Bung Hatta, Rahmi pun masih menyempatkan diri memperdalam beberapa bahasa asing, sejarah, dan ilmu politik di bawah bimbingan tutor pribadi. Ia juga punya perhatian mendalam pada pengetahuan dan kesenian, khususnya seni lukis. Seorang ibu yang bijaksana dan mampu mengurus keluarga dengan baik serta setia dan kuat menyimpan segala kesusahan dan kesedihan. Ia isteri yang sungguh sepadan dengan Bung Hatta. Kendati berusia 24 tahun lebih muda dan memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan Bung Hatta (seorang ilmuwan dan politikus ternama), Rahmi yang saat menikah berusia 19 tahun, mampu berperan sebagai pendamping sepadan. Rahmi selalu setia dan memberi dukungan kepada Bung Hatta, sang pembesar, tapi hidup sangat bersahaja, bersih, bahkan akan lebih memilih merugikan dirinya sendiri ketimbang merugikan negara.  Sebagai contoh, dari sekian banyak pengalaman Rahmi mendamping Bung Hatta. Suatu ketika, tahun 1950-an, Rahmi ingin membeli sebuah mesin jahit dari tabungan mereka selama bertahun-tahun. Tiba-tiba pemerintah mengumumkan pemotongan uang (Oeang Republik Indonesia). Rahmi mengeluh kenapa Hatta saat itu menjabat wakil presiden RI tidak membisikkan hal itu kepadanya.  Bung Hatta, suaminya hanya menjawab "Yoeke, rahasia negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga," ujar Hatta, sebagaimana dituliskan Rahmi dalam buku Bung Hatta. Termasuk pengalaman saat Bung Hatta hidup dalam pengasingan di Bangka, tatkala Meuthia masih berusia 21 bulan, sebagai salah satu tahap yang berat dalam hidup perkawinan mereka.
Rahmi pendamping setia dan sepadan, tidak pernah meminta lebih dari yang diberikan kepadanya. Hidup bersahaja, bersih, tenang, serta peduli dan berguna bagi orang lain. Kebersahajaannya juga terlihat ketika Rahmi mendapat hadiah sebuah rumah dari negara dengan luas bangunan 615 mu22, dan luas tanah 2.000 mu22. Ia sangat haru. Namun, rumah pemberian negara itu agaknya terlalu besar bagi keluarganya, sehingga lebih baik digunakan untuk keperluan-keperluan sosial. Itulah Rahmi yang hidup bersahaja, bersih, tenang, serta peduli dan berguna bagi orang lain, hingga ajal memanggilnya di Jakarta, 13 April 1999 pada usia 73 tahun dan dikebumikan di pekuburan Tanah Kusir (Fatah, 2010).
25.  Dewa Agung Isti Kanya
            Beliau adalah seorang pemimpin dalam serangan Belanda dalam perang di Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba. Selain beliau ikut mendampingi Anak Agung Ketut Agung dan Anak Agung Made Sangging. I Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung dengan Belanda di pertengahan abad ke-19. Sampai akhirnya pecah peristiwa perang penting dalam sejarah heroisme Bali Perang Kusamba yang menuai kemenangan telak dengan berhasil membunuh jenderal Belanda sarat prestasi, Jenderal AV Michiels (http://metrobali.com/?p=6559). Dia juga memerintahkan pembangunan terus-menerus benteng-benteng pertahanan di sepanjang Goa Lawah Kusamba buat menghadapi gempuran Belanda. Selain itu beliau juga berperan utama mengirimkan pasukan Klungkung ke Buleleng guna memperkuat laskar Gusti Ketut Jelantik menghadapi Belanda dalam perang Jagaraga (Prabaswara, Balipos:2003)

26.  Sagung Ayu Wah

            Sosok wanita berani itu telah menjadi sejarah besar bagi lahirnya kota Tabanan, dialah Sagung Ayu Wah, adik perempuan terkecil dari I Gusti Rai Perang, Raja Tabanan yang gugur di Puri Denpasar tahun 1906. Sagung Wah akhirnya memimpin pemberontakan terhadap Belanda setelah menghimpun kekuatan di Wangaya (Tabanan), yang saat itu rakyatnya dipimpin oleh seorang kebayan. Setelah digembleng sekitar dua bulan, tepatnya tanggal 5 Desember 1906 pasukan Sagung Wah bergerak menuju kota Tabanan dengan membawa senjata sakti Luhur Batukaru. ugurnya raja akibat tipu muslihat membuat Belanda leluasa menghancurkan kemegahan Kerajaan Tabanan dan mengasingkan keluarga Raja ke Lombok. Tetapi, Sagung Ayu Wah, gadis belia itu luput dari perhatian Belanda. Seperti yang tertulis dalam sejarah Balikan Wangaya, Sagung Wah akhirnya memimpin pemberontakan terhadap Belanda setelah menghimpun kekuatan di Wangaya (Tabanan), yang saat itu rakyatnya dipimpin oleh seorang kebayan. Setelah digembleng sekitar dua bulan, tepatnya tanggal 5 Desember 1906 pasukan Sagung Wah bergerak menuju kota Tabanan dengan membawa senjata sakti Luhur Batukaru.
            Pertempuran sengit terjadi di Tuakilang antara Belanda dan pasukan Sagung Wah. Meriam dan bedil Belanda tidak bisa meledak karena kesaktian senjata yang diperoleh di Batukaru. Belanda yang bingung menghadapi serangan pasukan gagah berani itu akhirnya mundur dan meminta perlindungan Puri Kaleran. Dari Puri Kaleran yang masih merupakan bagian dari Puri Agung Tabanan akhirnya dikeluarkan senjata Ki Tulup Empet untuk menangkal senjata sakti tersebut. Kekuatan kedua senjata itu akhirnya netral dan meriam serta bedil Belanda kembali berfungsi.
            Pertempuran akhirnya menjadi tidak seimbang ketika hari mulai gelap. Sagung Wah memutuskan untuk kembali ke Wangaya bersama pasukannya yang masih hidup. Dipandang Wangaya telah dicurigai Belanda, Sagung Wah memutuskan untuk pindah ke Puri Anyar Kerambitan. Setelah dua hari di sana, ada utusan dari Tabanan supaya Sagung Wah kembali ke Puri Tabanan untuk memimpin kerajaan sebagai ratu. Tetapi ternyata hal tersebut hanyalah merupakan tipu muslihat Belanda. Sagung Wah ditangkap di Dauh Pala, di depan Pura Manik Selaka, ketika sedang ditandu untuk menuju Puri Tabanan. Dia kemudian diasingkan ke Lombok.
            Kepahlawanan Sagung Wah, wanita pemberani itu akhirnya menjadi simbol dari berdirinya kota Tabanan. Kini patungnya diabadikan dekat catus pata yang lokasinya masih berdekatan dengan areal puri sekarang ini (Balipost: 2011).
27.  Anak Agung Mirah Astuti Kompiang
Anak Agung Mirah Astuti Kompiang merupakan wanita yang ikut membantu perjuangan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Wanita kelahiran 23 Desember 1933 ikut bersama ibunya membantu para pejuang untuk bersembunyi dari kejaran tentara NICA. Selain membantu para pejuang untuk bersembunyi ia juga ikut mengantarkan makanan untuk para pejuang.
28.  Luh Sekar
Luh Sekar merupakan salah satu pejuang Buleleng yang turut membantu para pemuda Indonesia melawan penjajah.  Luh Sekar yang sekarang dikenal dengan nama Jero Nagari merupakan perempuan pertama yang menjadi pejuang di desa asalnya, Panji. Saat Belanda menduduki Buleleng, ia menjabat sebagai ketua Wanita Republik Indonesia (Warindo). Saat berusia 17 tahun, ia ikut berjuang bersama pemuda desanya. Ia menjadi mata-mata para pejuang RI. Luh Sekar mahir menyamar sehingga selalu lolos dari kejaran tentara Belanda. Luh Sekar pernah ditangkap pasukan Belanda. Tetangganya menjadi mata-mata penjajah yang membocorkan rahasia persembunyiannya. Ia diciduk bersama dua teman perempuannya. Mereka dikurung dua minggu di Banyumala. Namun karena penjajah tidak mendapatkan informasi karena ia tetap menjaga rahasia akhirnya ia bersama dua orang temannya dilepaskan.
Tindak-tanduknya pun selalu diawasi Belanda. Dua minggu kemudian, Luh Sekar kembali ditangkap di Kantor MID. Di sana, para pemuda Indonesia banyak yang disiksa, dibakar hidup-hidup, dan dibunuh. Luh Sekar pun mendapat siksaan. Ia dipukuli, ditempeleng, ditendang. Ia dipaksa membocorkan informasi tentang keberadaan pemuda pejuang RI. Akhirnya Luh Sekar dapat dibebaskan karena memanfaatkan kecantikannya dengan mengakali tentara Belanda. Luh Sekar kemudian melarikan diri bersama pemuda lainnya ke hutan Puncak Landep, Desa Panji. Ia bergabung dalam Gerakan Rahasia (Geri) dan menjadi anggota perempuan satu-satunya. Ia membawa misi khusus sebagai penghubung pemuda pejuang di kota dan di hutan. Ia juga memata-matai keberadaan tentara Belanda untuk memudahkan pergerakan pemuda. Malam harinya ia bertugas di sepanjang jalan Seririt-Singaraja dan bersembunyi di tumpukan sekam padi.
29.  Djero Wiladja
Jero Wiladja yang semasa lajang bernama W.G. Sukarti merupakan wanita yang ikut membantu para pejuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Hanya saja ia tidak ikut bertempur seperti kaum laki- laki perannya lebih banyak menjadi informan alias mata-mata pejuang RI yang sengaja menyusupi wilayah jajahan. Ia pun menjalani peran sebagai petugas kesehatan bagi para pemuda pejuang masa itu. Ia ikut di berbagai pertempuran untuk mengusir penjajah, salah satunya adalah turut berjuang mengusir penjajah di Buleleng. Yang pada saat itu pasukan NICA baru saja mendarat di Buleleng.
Sukarti diikutkan bergerilya sebagai informan bagi para pejuang. Ia juga terkadang dipercaya mengemban tugas mengelabui musuh. Dengan cara ia berpura-pura mengendarai sepeda gayung bersama teman-temannya untuk mengalihkan perhatian serdadu penjajah yang sedang mengincar dua pemuda pejuang, Maruti dan Tanil. Tahun 1947 Sukarti dipindahkan sebagai pembantu sekretaris dan palang merah perwakilan MBU Sunda kecil di Buleleng yang dipimpin Wayan Noorai alias Pak Mangku. Hampir seluruh desa dan hutan di Buleleng telah dilalui bersama MBU, ia ikut menyemangati kaum wanita pedesaan agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
30.  Rahmah El Yunusiyah (1901-1969)
Kiprahnya adalah dalam dunia pendidikan yang berdasarkan prinsip agama islam. Gerakan yang dilakukan adalah mendirikan perguruan khusus untuk wanita yaitu Diniyah Putri School Padang Panjang. Tujuan pendirian perguruan tersebut adalah membentuk Putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan keluarga, masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT. Rahmah menganut politik non kooperatif dan tidak bernaung di bawah partai politik. Hal yang dicapai atas apa yang dilakukannya adalah menarik perhatian Negara lain, hasilnya adalah kunjungn dari Rektor Al Azhar dan mendapat gelar pnghormatan tertinggi Syeichah yang pertama kali diberikan kepada wanita.