BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan. Ribuan kepulauan yang
ada di Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam. Salah satu pulau yang
ada di Indonesia adalah pulau Bali yang merupakan pulau seribu pura. Namun, di
Pulau Bali pun ada beberapa pulau kecil lainnya, salah satunya Pulau Nusa
Penida. Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang hanya ada satu kecamatan yang
memiliki daerah wisata yang tergolong digemari oleh para wisatawan asing maupun
domestik disamping juga memiliki sejarah yang unik di berbagai daerah yang ada
di Nusa Penida, seperti sejarah Desa Ped. Desa Ped merupakan sebuah desa yang
berada di pesisir pantai yang terdiri dari dua belas banjar. Memang awalnya
sejarah Desa Ped masih simpang siur, hal ini disebabkan karena minimnya sumber.
Namun berbagai cara telah dilakukan agar sejarah Desa Ped ini bisa diketahui.
Akan tetapi, tahun berdirinya masih belum diketahui secara pasti.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana Kependudukan Desa Ped ?
1.2.2
Bagaimana asal kata “Ped” ?
1.2.3
Bagaimana Sejarah Pura Dalem Penataran
Ped ?
1.2.4
Bagaimana Sejarah Hubungan Pura Dalem
Penatara Ped dengan Dalem Dukut ?
1.3 Tujuan
1.3.1
Untuk mengetahui kependudukan Desa Ped.
1.3.2
Untuk mengetahui asal kata “Ped”.
1.3.3
Untuk megetahui Sejarah Pura Dalem Penataran
Ped.
1.3.4
Sejarah Hubungan Pura Dalem Penataran
Ped dengan Dalem Dukut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Kependudukan Desa Ped
Desa
Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten
Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem,
Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa
banjar. Dusun Sental terdiri dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental
Kawan, Dusun Seming terdiri dari dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar
Serangen, Dusun Pendem terdiri dari Banjar Pendem dan Banjar Bodong, Dusun
Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan, Dusun Biaung terdiri
dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar Prapat, Banjar Bias
dan Banjar Nyuh. Sehingga bisa dilihat dari enam dusun yang di Desa Ped ada
sebanyak dua belas banjar. Jumlah penduduk secara keseluruhan 4.976 orang (data
sensus penduduk 2011). Luas Desa Ped yakni 21,15 ha dengan batas-batas wilayah,
sebelah Utara yakni laut, Selatan Desa Klumpu, Timur Desa Kutampi, Barat Desa
Sakti dan Toye Pakeh.
Sistem
mata pencaharian di Desa Ped dominan seorang petani rumput laut. Jika kita
lihat melalui presentase, 60% petani rumput laut, 10% pedagang, 20% petani
sekaligus peternak sapi, 10% pegawai negeri. Hal ini disebabkan karena sebagian
besar penduduk yang berasal dari pesisir pantai. Penduduk yang sebagian besar
tinggal di pesisir pantai yakni dari Timur ke Barat, banjar Sental Kangin,
banjar Sental Kawan, sebagian penduduk banjar Seming tinggal di pesisir pantai,
selebihnya tinggal di perbukitan yang mata pencahariannya petani musiman dan
peternak sapi dan ayam, begitu juga sebagian kecil banjar Serangen, namun
sebagian besar penduduk banjar Bodong, banjar Pendem, banjar Adegan, banjar
Bias, banjar Prapat, dan banjar Nyuh yang tinggal menetap di pesisir pantai.
2.2 Asal
Kata Desa Ped
Penulis
menggunakan beberapa jenis sumber untuk mengetahui apa sebenarnya asal kata
Desa Ped itu sendiri. Sumber yang digunakan
diantaranya beberapa sumber lisan dan beberapa sumber tertulis lainnya.
Dari hasil wawancara penulis kepada seorang kakek sekaligus mantan Perbekel
Desa Ped yang menjabat dari tahun 1960-1965
yaitu I Wayan Regeh
menyatakan bahwa kata “Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan.
Beriringan yang dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang
terkenal ke pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida
Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan
pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud
menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di
Pura Dalem Nusa. Dulu bernama Pura Dalem Nusa tetapi sudah ada pergantian nama
setelah Ida Pedanda Abiansemal beriringan (mapeed) ke Pura Dalem Nusa kemudian
digantikan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung menjadi
Pura Dalem Ped. I Wayan Regeh mengetahui
hal ini dari membaca sebuah buku yang berjudul “Sejarah
Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped” yang ditulis Drs. Wayan Putera
Prata, tetapi sayangnya buku ini sudah hilang dipinjam oleh seseorang. Selain
itu juga, I Wayan Regeh juga mengetahui dari sumber lisan yang sempat ia
lakukan melalui seorang pemangku pemucuk Desa Ped. (Sumber: I Wayan Regeh.23
Oktober 2011).
Dengan adanya pernyataan I Wayan
Regeh maka untuk mengetahui Sejarah Desa Ped tidak terlepas
dari sejarah sebuah pura yang terkenal di pelosok Bali ini yang merupakan salah
satu pura kahyangan di Bali sekaligus terkenal angker yaitu Pura Dalem Ped atau
Pura Penataran Ped. Dari beberapa sumber lisan yang penulis temukan, salah
satunya Jro Mangku Putu Lingga yang merupakan salah satu pemangku pemucuk Pura
Dalem Ped menyatakan bahwa kelompok-kelompok penduduk dulu (sebelum menjadi
sebuah banjar) yang ada di dekat ataupun di sekitar lingkungan Pura Dalem Ped menjadi
pengempon Pura Dalem Ped ini. Beberapa dusun yang menjadi pengempon Dalem Ped pada
waktu itu sampai sekarang yaitu seperti diuraikan sebelumnya enam dusun yakni
Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped. Dusun Sental terdiri
dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental Kawan, Dusun Seming terdiri dari
dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar Serangen, Dusun Pendem terdiri dari
Banjar Pendem, Dusun Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan,
Dusun Biaung terdiri dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar
Prapat, Banjar Bias dan Banjar Nyuh.
2.3
Sejarah Pura Dalem Penataran Ped
Pura
Dalem Ped merupakan salah satu pura kahyangan jagad yang terkenal di pelosok
Bali sehingga masyarakat Bali berbondong-bondong tangkil ke Pura Dalem Ped ini.
Pura Dalem Ped tepat berada di pesisir pantai Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida,
Kabupaten Klungkung.
Informasi
tentang keberadaan Pura Dalem Ped atau Pura Penataran Ped pada awalnya masih
sangat simpang siur. Hal ini disebabkan karena dalam penggalian sumber untuk
mencari informasi tentang keberadaan pura ini, sumber-sumber yang ada sangat
minim. Dengan demikian hal ini memicu timbulnya perdebatan yang cukup lama di
antara beberapa tokoh-tokoh spiritual. Perdebatan yang timbul yakni mengenai
nama pura. Kelompok Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja Mangku
Lingsir, menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya,
khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.
Menurut
Dewa Ketut Soma seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra,
Klungkung, dalam tulisannya berjudul “Selayang Pandang Pura Ped” berpendapat,
kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang
dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped, Jadi, satu pihak menonjolkan
"penataran"-nya, satu pihak lainnya lebih menonjolkan
"dalem"-nya.
Kembali
pada tiga buah tapel. Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan
berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan.
Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal kehilangan ' tiga buah tapel. Begitu
menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu, ternyata tapel tersebut
adalah miliknya yang hilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak
mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik
dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.
Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi
ke seluruh pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat
itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya.
Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk
menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak
memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang
menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit
tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.
Kemudian warga menggelar
upacara mapeed. Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar
Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar
hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti
nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).
Meski pun ada kata "dalem", namun bukan berarti pura tersebut
mempakan bagian dari Tri Kahyangan. Yang dimaksudkan "dalem" di sini
adalah merujuk sebutan raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem
atau raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede
Mecaling.
Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Persembahyangan
pertama yakni Pura Segara, sebagai tempat berstananya Bhatara Baruna, yang terletak
pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Persembahyangan
kedua yakni Pura Taman yang terletak di sebelah selatan Pura Segara dengan
kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya yang berfungsi sebagai tempat
penyucian. Kemudian persembahyangan ketiga yakni ke baratnya lagi, ada pura
utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa
pada zamannya. Persembahyangan terakhir yakni di sebelah timurnya ada Ratu Mas.
Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih
Bhatara-bhatara pada waktu ngusaba.
Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan
lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada
sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung
yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.
Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan
atau pemugaran, kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua area
yakni Area Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Area Ratu Mas yang
ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua area itu tidak ada yang berani menyentuhnya.
Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk
memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan
yang dikeramatkan tersebut.
2.4 Sejarah Hubungan Pura
Dalem Ped dengan Dalem Dukut
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan
upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan
untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat
Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati
Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan
kekerasan perang mau menguasai Nusa. Bagaimana hubungan kesejarahan antara Pura
Dalem Peed dengan Dalem Dukut?
Saat itu Dalem Nusa melepaskan wong
samarnya mengalahkan Ngurah Peminggir dengan pasukannya. Dalem Klungkung
melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gusti
Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik
Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai
utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata
krama kerajaan dalam menerima utusan raja.
Dalem Dukut atau ada juga sumber
yang menyebut Dalem Bungkut bersedia menyerahkan Kerajaan Nusa melalui suatu
cara yang terhormat dalam tata krama sebagai kesatria. Dua tokoh ini pun
mengadakan perang tanding secara terhormat dengan tidak melibatkan prajurit dan
rakyatnya. Mereka melakukan perang tanding secara kesatria tidak berdasarkan
kebencian dan kesombongan akan kelebihan diri masing-masing.
I Gusti. Jelantik Bogol dalam perang
tanding itu menggunakan senjata pemberian kerajaan bernama ”Ganja Malela”.
Dalam perang tanding itu senjata Ganja Malela I Gusti Jelantik Bogol patah. Hampir
saja I Gusti Jelantik Bogol kalah. Cepat-cepat istrinya, Ni Gusti Ayu Kaler,
memberikan senjata bartuah bernama Pencok Sahang. Melihat senjata Pencok Sahang
ini Dalem Dukut sudah punya firasat bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke
alam sunia lewat senjata Pencok Sahang.
Peperangan pun dihentikan sementara
dan Dalem Dukut menyatakan kepada I Gusti Jelantik Bogol bahwa ia akan kembali
ke Sunia Loka lewat senjata Pencok Sahang itu. Dalem Dukut pun menyatakan
menyerahkan segala kekayaan Nusa dengan rakyat dan wong samar-nya untuk
mendukung Dalem Klungkung memajukan Klungkung.
Senjata Pencok Sahang ini
sesungguhnya adalah taring Naga Basuki. Ketika Ni Gst. Ayu Kaler mandi di
Sungai Unda ada sepotong kayu bagaikan kayu bakar atau sahang yang selalu
menujunya. Setiap kayu itu dijauhkan dari dirinya selalu balik kembali
mendekati dirinya. Akhirnya kayu itu dipungut. Setelah dibelah ternyata di
dalamnya terdapat sebuah keris yang belum jadi. Keris itulah bernama Pencok
Sahang yang tiada lain adalah taring Naga Basuki sendiri.
Perlu direnungkan latar belakang
dari perang tanding Dalem Dukut dengan Jelantik Bogol. Dua orang ini
sesungguhnya sudah saling kenal, bahkan bersahabat saat belum menjabat sebagai
raja maupun patih. Saat ada panggilan tugas yang berbeda ini mereka kelola dengan
bijak sesuai dengan swadharma kesatria. Saat Patih Jelantik Bogol datang ke
Nusa membawa tugas Kerajaan Klungkung, Dalem Dukut menyambutnya dengan sangat
ramah. Dalem Dukut menyatakan bahwa jangan karena ada tugas yang berlawanan
terus persahabatan menjadi hilang. Demikian juga sebaliknya jangan karena
sahabat terus swadharma ditinggalkan sebagai seorang kesatia. Patih Jelantik
Bogol membawa pasukan dari Klungkung, tetapi tidak dengan kasar menyerang
Kerajaan Nusa. Jelantik Bogol mengatakan pendekatan diplomatik terlebih dahulu
dengan cara-cara yang menghormati Dalem Dukut. Raja Nusa ini pun menyambut
dengan baik. Dalem Dukut menjamu Patih Jelantik Bogol sebagai seorang teman.
Dalam jamuan tersebut Dalem Dukut
menyatakan bahwa Nusa tidak akan kalah kalau Dalem Dukut masih hidup, walaupun
semua pasukan Nusa habis. Sebaliknya utusan Dalem Klungkung pun tidak akan
kalah kalau Patih Jelantik Bogol tidak gugur di medan perang, meskipun semua
pasukan Klungkung gugur dalam pertempuran.
Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol
sepakat untuk tidak memberikan pasukannya masing-masing bertempur. Biarlah
mereka bergembira membangun komunikasi persaudaraan demi Bali dan Nusa. Dalem
Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk melakukan perang tanding dalam
melakukan swadharma kesatria. Swadharma Patih Jelantik Bogol adalah
menyukseskan misi Dalem Klungkung untuk menyatukan Nusa Penida ke dalam
kekuasaan Klungkung, sedangkan Dalem Dukut memiliki swadharma untuk menjaga
eksistensi kehormatan Kerajaan Nusa Penida.
Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol
perang tanding untuk melakukan swadharmanya masing-masing. Perang tanding itu
bukan dilakukan karena kebencian, tetapi atas dorongan melakukan swadharma
sebagai kesatria. Dalam melakukan swadharma tersebut mereka tetap juga menjaga
persahabatan. Sebelum perang tanding dilangsungkan, Dalem Dukut pun menjamu I
Gst. Ngurah Jelantik Bogol sebagai seorang sahabat dengan jamuan kehormatan.
Pasukan Klungkung dan Nusa pun ikut berpesta dalam perjamuan tersebut.
Setelah jamuan berlangsung barulah
perang tanding dilakukan dengan cara-cara kesatria. Kedua pasukan hanya sebagai
saksi perang tanding tersebut. Apalagi rakyat sipil tidak ada yang jadi korban
dalam proses penguasaan Nusa oleh Dalem Klungkung. Sifat-sifat kesatria Dalem
Dukut dan Patih Jelantik Bogol ini patut menjadi renungan kita bersama dalam
membangun Bali dalam proses dinamika kehidupan politik untuk mengutamakan
sifat-sifat kesatria yang tidak mengorbankan rakyat kecil untuk mewujudkan
tujuan mencapai kekuasaan maupun mencari kekayaan.
Bersatunya Nusa dengan Bali menjadi
satu sistem pemerintahan dalam proses yang sangat terhormat pada masa
pemerintahan Dalem Klungkung. Tidak ada yang kalah menang dalam artian sempit.
Dalem Dukut tidak mengerahkan pasukan wong samar-nya melawan I Gst. Jelantik
Bogol. Kemungkinan Dalem Dukut melihat suatu kepentingan yang lebih besar dan
lebih mulia yaitu bersatunya alam dan rakyat Nusa dengan Bali. Persatuan ini
akan membawa kedua daerah lebih mudah maju membangun kesejahteraan hidup
bersama antara rakyat Bali dan Nusa Penida lahir batin.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Desa
Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten
Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem,
Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa
banjar.
Kata
“Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan. Beriringan yang
dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang terkenal ke
pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda
Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya
secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan
langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura
Dalem Nusa.
Kesaktian
tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh
pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat itu
menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya.
Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk
menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak
memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang
menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit
tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.
Dalam
Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida
dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif
antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus
oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena
Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa.
Dalem
Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I
Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah
Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang
kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat
sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.
DAFTAR PUSTAKA
Madani, Kharisma.2010.
Sejarah Pura Penataran Dalem Agung Ped. Atmosfer Kekuatan (tabik pekulun) Ratu Gede Nusa. www.google.com. diunduh pada tanggal 2 November 2011
Soma, Dewa Ketut. 2010 “Selayang Pandang Pura
Ped”. Klungkung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar