Sistem Pendidikan dan Munculnya organisasi-organisasi yang
merupakan embrio Pergerakan Nasional
Istilah
Pergerakan yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dengan menggunakan
organisasi yang teratur, sedangkan Nasional yang dimaksud disini yaitu untuk
membatasi pokok pembicaraan tentang pergerakan-pergerakan yang bercita-cita
nasional yaitu cita-cita mencapai kemerdekaan Indonesia.
Akhir
abad ke 19 dan awal abad ke 20 sudah muncul benih-benih Nasionalisme. Faktor
yang mendorong munculnya pergerakan nasional yaitu munculnya golongan cendikiawan
akibat perkembangan dan meningkatnya pendidikan politik balas budi/etika dari
pemerintah Belanda yang berawal dari pidato Ratu Wihelmina pada tahun 1901 di State General yang menegaskan bahwa pemerintah Belanda merasa
memiliki kewajiban moral terhadap rakyat jajahan.
Perbedaan
Jawa dan Bali pada saat itu, di Jawa pada tahun 1900 sudah ada politik etis,
sedangkan di Bali, antara tahun 1846-1908 masih berlangsung peperangan
menentang pemerintah Belanda.
Usaha
Belanda pertama di Bali yaitu di bidang pendidikan, ini dilakukan setelah
Buleleng diduduki secara keseluruhan untuk memenuhi kepentingan dalam
administrasi pemerintahan Hindia-Belanda. Selain tujuan ini, ada tujuan
sosiobudaya dan politis, yaitu weternisasi dan asimilasi, artinya melalui
pendidikan Pemerintah Hindia Belanda berkeinginan agar tanah jajahan memiliki
struktur social, budaya, politik, yang sama dengan negeri Belanda. Sehingga
Belanda mendirikan Sekolah Rendah Bumi Putera di Bali th 1875 di Singaraja,
menyusul Jembrana pada th 1889. Pemerintah Hindia Belanda melakukan
reorganisasi terhadap Sekolah Rendah Bumi Putera, sehingga melahirkan Sekolah
Dasar Pertama dan Sekolah Dasar kelas kedua. Sekolah Dasar Pertama
diperuntukkan bagi anak kaum ninggrat, orang kaya, serta anak tokoh yang
terkemuka pribumi.
Tahun
1914 Belanda mendirikan sekolah-sekolah dasar di beberapa daerah kota Singaraja
antara lain di Bubunan, Sukasada, Kubutambahan, dan Bondalem. Sedangkan luar
daerah yaitu Penebel dan Kerambitan (Tabanan), Denpasar, Karangasem, dan
Gianyar.
Tujuan
pendidikan saat itu hanyalah bertujuan untuk agar bisa membaca, menulis dan
sekedar bisa menghitung. Bali Utara merupakan pusat pendidikan di Bali pada
saat itu walaupun tidak sebanyak di Badung namun di Bali Utara memiliki sekolah yang lengkap.
Pendidikan
kolonial ini diterapkan di Indonesia ditujukan ke arah modernisasi yang
bersifat Westernisasi artinya menciptakan manusia yang modern sesuai kriteria
kebudayaan barat.
Pengaruh
kebudayaan Barat di Bali ini dilakukan
melalui pendidikan maupun kontak sosial dengan cirinya yaitu bersifat netral
terhadap agama karena lebih mengutamakan kebudayaan material, sehingga
kebudayaan spiritual diabaikan
Namun
di balik dampak negatif diatas, ada dampak positif yaitu pendidikan membawa
gelombang perubahan yang semakin cepat, bahkan ke luar dari kerangka tujuan
yang digariskan oleh penganjur Politik Etis. Hal ini karena ada kesadaran
pelajar di Bali akan nasib bangsanya yang terjajah. Kesadaran ini tampak dari
timbulnya beberapa gagasan/ide-ide untuk mendirikan perkumpulan yang dapat
menunjang pendidikan. Perkumpulannya antara lain :
a.
Perkumpulan Setiti Bali (1917)
Di
Singaraja berdiri Perkumpulan Setiti Bali dengan tujuan memajukan masyrakat
Bali dalam bidang pendidikan, agama, dan adat istiadat serta dalam bidang
ekonomi. Hanya berdiri sampai th 1920, karena ada desakan pemerintah dan
timbulnya perselisihan paham di antara anggota-anggotanya.
b.
Perkumpulan Suita Gama Tirtha (1921)
Perkumpulan
ini bergerak di bidang agama dan pendidikan yang dipimpin oleh I Gusti Putu
Jelantik. Tujuannya, untuk memuliakan agama serta mengubah adat istiadat yang
bertentangan dengan kehendak zaman.
c.
Perkumpulan Santhi (1923)
Di
bentuk di Singaraja , Tujuannya yaitu mengembangkan kecintaan pada pendidikan
agama dan juga memberi pelajaran membaca dan menulis, dan berhasil mendirikan
Sekolah Perhimpunan Santhi. Perkumpulan ini akhirnya mengalami perpecahan
karena adanya konflik intern.
d.
Perkumpulan Surya Kanta (1925)
Pada
hakikatnya merupakan sempalan dari Perkumpulan Santhi. Faktor pendorongnya
adalah faktor pengaruh pendidikan dan kondisi sosial pada waktu itu . Azas
perkumpulan ini antara lain :
-
Mengutamakan budi
-
Memperbaiki ekonomi
-
Memperbaiki dan melidungi
nasib kaum jaba
-
Mengukuh adat yang
bertentangan dengan kemajuan zaman
Langkah-langkah yang harus ditempuh
yaitu :
-
Menyiarkan isi kitab-kitab
dengan menerbitkan surat kabar
-
Mengadakan pembacaan
-
Usaha-usaha lain yang tidak
melanggar peraturan yang berlaku.
Sifat
perkumpulan Surya Kanta ini adalah non politik, karena organisasi ini lebih
banyak tertuju pada organisasi social.sejak perkumpulan Surya Kanta telah
dimulai disebarkan paham kemajuan, yaitu memberikan penerangan pada masyarakat
Bali mengenai pentingnya pendidikan serta mengadakan pembaharuan-pembaharuan
tentang adat istiadat yang tidak sesuai dengan keadaan zaman, dan mendengungkan
terciptanya persamaan hak antara golomngan Triwangsa dengan golongan Jaba dalam
bidang perlakuan dan hukum.
Mulanya
Surya Kanta hanya bergerak di Singaraja, kemudian mengembangkan
cabang-cabangnya di beberapa wilayah seperti Bubunan, Bajra (Tabanan), bahkan
sampai ke Lombok. Ada kemajuan yang penting yaitu usulan R. Wiradita ( dokter
hewan) yaitu agar perkumpulan Surya Kanta mengubah haluannya, yaitu tidak
semata-mata sebagai organisasi social Budaya, tetapi bergerak langsung di
bidang lapangan politik. Nyoman Mas Wirjasuta menanggapi, bahwa perkumpulan ini
sebaiknya tetap bersifat organisasi non politik. President Surya Kanta
memberikan jalan tengah yaitu para anggots boleh berpolitik, tetapi bukan atas
nama organisasi tetapi atas kehendak dan tanggung jawab pribadi. Dan keputusan
ini disetujui oleh peserta rapat. Masalah lain yang menjadi sorotan dalam rapat
adalah pemngembalian system kasta pada prinsif dasar yang sebenarnya, yaitu
bahwa kasta tersebut merupakan pengelompokkan social atas dasar perbuatan,
kelakuan atau budi.
Dalam
rapat tersebut juga ditemukan penolakan penyamaan istilah Jaba dengan Sudra, sebagaimana
dikehendaki oleh kaum Triwangsa. Pemakaian istilah jaba tetap dipertahankan
karena istilah tersebut tidak sama maknanya dengan sudra, jaba artinya diluar
kaum triwangsa, disamping istilah wangsa sudah umum dipakai di Bali dan Lombok
yang dibuktikan sebutan catur warna yang terbagi dua yakni triwangsa dan jaba.
e.
Bali Adnyana
Bali
Adnyana sebenarnya bukan suatu organisasi, karena tidak jelas struktur pengurus
organisasi, ideology, maupun persyaratan-persyaratan lainnya. Kemunculan Bali
Adnyana terkait dengan adanya perpecahan dalam perkumpulan Shanti. Bali Adnyana sebenarnya kelompok golongan
atas dasar kesatuan paham dalam hubungannya dengan konflik social yang pernah
terjadi di Singaraja.
Menjelang
akhir 1927, rupanya kedua golongan yang bertentangan (Bali Adnyana dan Surya
Kanta) menyadari bahwa perbedaan paham yang mementingan satu golongan perlu
diakhiri. Ini dibuktikan dengan pernyataan dari redaksi Bali Adnyana yang
,enganjurkan pada perwakilannya dan para simpatisin agar semua orang-orang bali
jangan ada yang merendahkan derajat bangsanya, dan disadari pula bahwa perkumpulan
Surya Kanta mempunyai cita-cita jauh lebih maju.
.
f.
Perhimpunan Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali (1926)
Beberapa
tokoh, seperti I Gusti Bagus Djelantik khawatir kalau pertentangan kasta di
Bali Utara dapat meluas di seluruh Bali. Oleh karena itu, timbul inisiatif
untuk membetuk suatu perkumpulan yang bernama Perkumpulan Catur Wangsa Derya
Gama Hindu Bali yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1926 di Klungkung yang
bertujuan antara lain melenyapkan pertentangan kasta yang terjadi di Bali Utara
serta memulih persatuan antara keempat golongan kasta di Bali dengan darmanya
masing-masing.
Di
dalam bidang pendidikan perkumpulan ini berusaha mendirikan sekolah-sekolah,
mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan yang termuat di dalam lontar-lontar
melalui mimbar majalah-majalah dan brosur-brosur. Keanggotaan perkumpulan ini
terbatas yaitu bahwa yang menjadi anggota perkumpulan adalah dari golongan
catur wangsa yang memeluk Agama Hindu di Bali yang berumur sekurang-kurangnya
18 tahun.
Mengenai
luasnya organisasi perkumpulan ini meliputi orang-orang Bali yang ada di Bali
dan Lombok.
g.
Perkumpulan Eka Laksana ( 1935)
Pada
tanggal 14 Juli 1935 di Denpasar didirikan organisasi pelajar dengan nama Eka
Laksana, yang angota-angotanya terdiri dari pelajar-pelajar dari Bali dan
Lombok. Bersifat non politik. Bertujuan untuk mempelajari dan memajukan
kebudayaan Bali dan Lombok serta menjalin hubungan sesama anggota-anggotanya
terutama memajukan dan saling membantu di antara pelajar-pelajar dari Bali dan
Lombok.
Beberapa
anggota dari perkumpulan pelajar Eka Laksana ini tersebar di Jawa dan Bali
meliputi beberapa daerah antara lain Cabang Bandung, Yogjakarta, Surabaya, dan
beberapa daerah di Bali antara lain di Klungkung, Denpasar, Karangasem, dan
Bajra (Tabanan). Perkumpulan Eka Laksana ini menggabungkan diri pada tanggal 16
Juli 1936 dengan Balisch Studiefonds
menjadi satu perkumpulan dengan nama Bali Darma Laksana.
h.
Perkumpulan Bali Darma Laksana (1936)
Perkumpulan
ini didirikan pada tanggal 26 Juli 1936, dengan tujuannya antara lain
mengumpulkan uang dan memberi bantuan kepada putra Bali yang sedamg belajar di
Sekolah Menengah maupun di Perguruan Tinggi, baik dalam negeri maupun Luar
Negeri. Disamping itu juga memberikan bantuan kepada putra Bali yang pintar
yang berpaidah untuk kepentingan masyarakat luas, dimana pemberian bantuan ini
atas persetujuan pengurus besar Perkumpulan Bali Darma Laksana. Tujuan lainnya
adalah memajukan kebudayaan Bali dalam arti seluas-luasnya.
i.
Perkumpulan Putri Bali Sadar (1936)
Pada
tanggal 1 Oktober 1936, di Denpasar didirikan Perkumpulan Putri Bali Sadar yang
dilatarbelakangi banyak kaum putrid yang tidak dapat melanjutkan pelajaran di
sekolah karena kematian orang tuanya atau yang menanggungnya. Di samping itu
juga, banyak kaum putri muda maupun tua ingin bisa membaca dan menulis.
Usaha-usaha yang dilakukan antara lain :
1. Mengusahakan kerukunan di antara putrid-putri Bali dengan
memberikan dasar peradaban Bali (menjujung tinggi kebudayaan Bali) yang sesuai
dengan perkembangan zaman.
2. Tolong-menolong di antara angota-anggotanya dalam suka dan
duka.
3. Memajukan pengetahuan dengan jalan membuka kursus-kursus
pada waktu sore atau pagi.
4. Membuat studie fonds untuk membantu anak-anak murid
perempuan yang putus biaya sekolah.
5. Memberikan kesempatan kepada putrid-putri Bali yang lewat
umur untuk menambah pengetahuan membaca dan menulis.
Perkumpulan
ini berjalan dengan baik sampai menjelang masuknya Jepang ke Bali bersama-sama
dengan perkumpulan Bali Darma Laksana, di mana di antara anggota-anggota dari
Putri Bali Sadar kemudian menggabungkan diri di dalam organisasi wanita pada
zaman penjajahan Jepang dengan nama Fu
Jin Kay.
j.
Persatuan Pemuda Bali Lombok (1938)
Pada
tanggal 4 Desember 1938, atas prakarsa Made Taman dkk bertempat di Surabaya
berhasil mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama Persatuan Pemuda Bali Lombok
(PPBL). Anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar yang berasal dari Bali dan
Lombok ditambah lagi bebrapa pemuda baik pria maupun wanita.
Tujuan
utama dari PPBL yakni
-
mewujudkan persatuan di
kalangan anggota-anggotanya, tidak ada perbedaan agama dan satu sama lain harus
saling harga menghargai.
-
Berusaha meninggikan
kecerdasan melalui pendidikan dengan berbagai usaha antara lain menerbitkan
majalah, mengadakan pembacaan, dll
Tidak ada komentar:
Posting Komentar