JASMERAH

Jangan sekali-sekali melupakan sejarah brow....

Kamis, 19 Juli 2012

Sistem Pendidikan dan Munculnya organisasi-organisasi yang merupakan embrio Pergerakan Nasional


  Sistem Pendidikan dan Munculnya organisasi-organisasi yang merupakan embrio Pergerakan Nasional

Istilah Pergerakan yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dengan menggunakan organisasi yang teratur, sedangkan Nasional yang dimaksud disini yaitu untuk membatasi pokok pembicaraan tentang pergerakan-pergerakan yang bercita-cita nasional yaitu cita-cita mencapai kemerdekaan Indonesia.
Akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 sudah muncul benih-benih Nasionalisme. Faktor yang mendorong munculnya pergerakan nasional yaitu munculnya golongan cendikiawan akibat perkembangan dan meningkatnya pendidikan politik balas budi/etika dari pemerintah Belanda yang berawal dari pidato Ratu Wihelmina pada tahun 1901 di State General yang menegaskan bahwa pemerintah Belanda merasa memiliki kewajiban moral terhadap rakyat jajahan.
Perbedaan Jawa dan Bali pada saat itu, di Jawa pada tahun 1900 sudah ada politik etis, sedangkan di Bali, antara tahun 1846-1908 masih berlangsung peperangan menentang pemerintah Belanda.
Usaha Belanda pertama di Bali yaitu di bidang pendidikan, ini dilakukan setelah Buleleng diduduki secara keseluruhan untuk memenuhi kepentingan dalam administrasi pemerintahan Hindia-Belanda. Selain tujuan ini, ada tujuan sosiobudaya dan politis, yaitu weternisasi dan asimilasi, artinya melalui pendidikan Pemerintah Hindia Belanda berkeinginan agar tanah jajahan memiliki struktur social, budaya, politik, yang sama dengan negeri Belanda. Sehingga Belanda mendirikan Sekolah Rendah Bumi Putera di Bali th 1875 di Singaraja, menyusul Jembrana pada th 1889. Pemerintah Hindia Belanda melakukan reorganisasi terhadap Sekolah Rendah Bumi Putera, sehingga melahirkan Sekolah Dasar Pertama dan Sekolah Dasar kelas kedua. Sekolah Dasar Pertama diperuntukkan bagi anak kaum ninggrat, orang kaya, serta anak tokoh yang terkemuka pribumi.
Tahun 1914 Belanda mendirikan sekolah-sekolah dasar di beberapa daerah kota Singaraja antara lain di Bubunan, Sukasada, Kubutambahan, dan Bondalem. Sedangkan luar daerah yaitu Penebel dan Kerambitan (Tabanan), Denpasar, Karangasem, dan Gianyar.
Tujuan pendidikan saat itu hanyalah bertujuan untuk agar bisa membaca, menulis dan sekedar bisa menghitung. Bali Utara merupakan pusat pendidikan di Bali pada saat itu walaupun tidak sebanyak di Badung namun  di Bali Utara memiliki sekolah yang lengkap.
Pendidikan kolonial ini diterapkan di Indonesia ditujukan ke arah modernisasi yang bersifat Westernisasi artinya menciptakan manusia yang modern sesuai kriteria kebudayaan barat.
Pengaruh kebudayaan Barat di Bali  ini dilakukan melalui pendidikan maupun kontak sosial dengan cirinya yaitu bersifat netral terhadap agama karena lebih mengutamakan kebudayaan material, sehingga kebudayaan spiritual diabaikan
Namun di balik dampak negatif diatas, ada dampak positif yaitu pendidikan membawa gelombang perubahan yang semakin cepat, bahkan ke luar dari kerangka tujuan yang digariskan oleh penganjur Politik Etis. Hal ini karena ada kesadaran pelajar di Bali akan nasib bangsanya yang terjajah. Kesadaran ini tampak dari timbulnya beberapa gagasan/ide-ide untuk mendirikan perkumpulan yang dapat menunjang pendidikan. Perkumpulannya antara lain :
a.      Perkumpulan Setiti Bali (1917)
Di Singaraja berdiri Perkumpulan Setiti Bali dengan tujuan memajukan masyrakat Bali dalam bidang pendidikan, agama, dan adat istiadat serta dalam bidang ekonomi. Hanya berdiri sampai th 1920, karena ada desakan pemerintah dan timbulnya perselisihan paham di antara anggota-anggotanya.
b.     Perkumpulan Suita Gama Tirtha (1921)
Perkumpulan ini bergerak di bidang agama dan pendidikan yang dipimpin oleh I Gusti Putu Jelantik. Tujuannya, untuk memuliakan agama serta mengubah adat istiadat yang bertentangan dengan kehendak zaman.
c.      Perkumpulan Santhi (1923)
Di bentuk di Singaraja , Tujuannya yaitu mengembangkan kecintaan pada pendidikan agama dan juga memberi pelajaran membaca dan menulis, dan berhasil mendirikan Sekolah Perhimpunan Santhi. Perkumpulan ini akhirnya mengalami perpecahan karena adanya konflik intern.
d.     Perkumpulan Surya Kanta (1925)
Pada hakikatnya merupakan sempalan dari Perkumpulan Santhi. Faktor pendorongnya adalah faktor pengaruh pendidikan dan kondisi sosial pada waktu itu . Azas perkumpulan ini antara lain :
-          Mengutamakan budi
-          Memperbaiki ekonomi
-          Memperbaiki dan melidungi nasib kaum jaba
-          Mengukuh adat yang bertentangan dengan kemajuan zaman
Langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu :
-          Menyiarkan isi kitab-kitab dengan menerbitkan surat kabar
-          Mengadakan pembacaan
-          Usaha-usaha lain yang tidak melanggar peraturan yang berlaku.
Sifat perkumpulan Surya Kanta ini adalah non politik, karena organisasi ini lebih banyak tertuju pada organisasi social.sejak perkumpulan Surya Kanta telah dimulai disebarkan paham kemajuan, yaitu memberikan penerangan pada masyarakat Bali mengenai pentingnya pendidikan serta mengadakan pembaharuan-pembaharuan tentang adat istiadat yang tidak sesuai dengan keadaan zaman, dan mendengungkan terciptanya persamaan hak antara golomngan Triwangsa dengan golongan Jaba dalam bidang perlakuan dan hukum.
Mulanya Surya Kanta hanya bergerak di Singaraja, kemudian mengembangkan cabang-cabangnya di beberapa wilayah seperti Bubunan, Bajra (Tabanan), bahkan sampai ke Lombok. Ada kemajuan yang penting yaitu usulan R. Wiradita ( dokter hewan) yaitu agar perkumpulan Surya Kanta mengubah haluannya, yaitu tidak semata-mata sebagai organisasi social Budaya, tetapi bergerak langsung di bidang lapangan politik. Nyoman Mas Wirjasuta menanggapi, bahwa perkumpulan ini sebaiknya tetap bersifat organisasi non politik. President Surya Kanta memberikan jalan tengah yaitu para anggots boleh berpolitik, tetapi bukan atas nama organisasi tetapi atas kehendak dan tanggung jawab pribadi. Dan keputusan ini disetujui oleh peserta rapat. Masalah lain yang menjadi sorotan dalam rapat adalah pemngembalian system kasta pada prinsif dasar yang sebenarnya, yaitu bahwa kasta tersebut merupakan pengelompokkan social atas dasar perbuatan, kelakuan atau budi.
Dalam rapat tersebut juga ditemukan penolakan penyamaan istilah Jaba dengan Sudra, sebagaimana dikehendaki oleh kaum Triwangsa. Pemakaian istilah jaba tetap dipertahankan karena istilah tersebut tidak sama maknanya dengan sudra, jaba artinya diluar kaum triwangsa, disamping istilah wangsa sudah umum dipakai di Bali dan Lombok yang dibuktikan sebutan catur warna yang terbagi dua yakni triwangsa dan jaba.

e.      Bali Adnyana
Bali Adnyana sebenarnya bukan suatu organisasi, karena tidak jelas struktur pengurus organisasi, ideology, maupun persyaratan-persyaratan lainnya. Kemunculan Bali Adnyana terkait dengan adanya perpecahan dalam perkumpulan Shanti.  Bali Adnyana sebenarnya kelompok golongan atas dasar kesatuan paham dalam hubungannya dengan konflik social yang pernah terjadi di Singaraja.
Menjelang akhir 1927, rupanya kedua golongan yang bertentangan (Bali Adnyana dan Surya Kanta) menyadari bahwa perbedaan paham yang mementingan satu golongan perlu diakhiri. Ini dibuktikan dengan pernyataan dari redaksi Bali Adnyana yang ,enganjurkan pada perwakilannya dan para simpatisin agar semua orang-orang bali jangan ada yang merendahkan derajat bangsanya, dan disadari pula bahwa perkumpulan Surya Kanta mempunyai cita-cita jauh lebih maju.
.
f.        Perhimpunan Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali (1926)
Beberapa tokoh, seperti I Gusti Bagus Djelantik khawatir kalau pertentangan kasta di Bali Utara dapat meluas di seluruh Bali. Oleh karena itu, timbul inisiatif untuk membetuk suatu perkumpulan yang bernama Perkumpulan Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1926 di Klungkung yang bertujuan antara lain melenyapkan pertentangan kasta yang terjadi di Bali Utara serta memulih persatuan antara keempat golongan kasta di Bali dengan darmanya masing-masing.
Di dalam bidang pendidikan perkumpulan ini berusaha mendirikan sekolah-sekolah, mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan yang termuat di dalam lontar-lontar melalui mimbar majalah-majalah dan brosur-brosur. Keanggotaan perkumpulan ini terbatas yaitu bahwa yang menjadi anggota perkumpulan adalah dari golongan catur wangsa yang memeluk Agama Hindu di Bali yang berumur sekurang-kurangnya 18 tahun.
Mengenai luasnya organisasi perkumpulan ini meliputi orang-orang Bali yang ada di Bali dan Lombok.

g.      Perkumpulan Eka Laksana ( 1935)
Pada tanggal 14 Juli 1935 di Denpasar didirikan organisasi pelajar dengan nama Eka Laksana, yang angota-angotanya terdiri dari pelajar-pelajar dari Bali dan Lombok. Bersifat non politik. Bertujuan untuk mempelajari dan memajukan kebudayaan Bali dan Lombok serta menjalin hubungan sesama anggota-anggotanya terutama memajukan dan saling membantu di antara pelajar-pelajar dari Bali dan Lombok.
Beberapa anggota dari perkumpulan pelajar Eka Laksana ini tersebar di Jawa dan Bali meliputi beberapa daerah antara lain Cabang Bandung, Yogjakarta, Surabaya, dan beberapa daerah di Bali antara lain di Klungkung, Denpasar, Karangasem, dan Bajra (Tabanan). Perkumpulan Eka Laksana ini menggabungkan diri pada tanggal 16 Juli 1936 dengan Balisch Studiefonds menjadi satu perkumpulan dengan nama Bali Darma Laksana.

h.     Perkumpulan Bali Darma Laksana (1936)
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 26 Juli 1936, dengan tujuannya antara lain mengumpulkan uang dan memberi bantuan kepada putra Bali yang sedamg belajar di Sekolah Menengah maupun di Perguruan Tinggi, baik dalam negeri maupun Luar Negeri. Disamping itu juga memberikan bantuan kepada putra Bali yang pintar yang berpaidah untuk kepentingan masyarakat luas, dimana pemberian bantuan ini atas persetujuan pengurus besar Perkumpulan Bali Darma Laksana. Tujuan lainnya adalah memajukan kebudayaan Bali dalam arti seluas-luasnya.

i.        Perkumpulan Putri Bali Sadar (1936)
Pada tanggal 1 Oktober 1936, di Denpasar didirikan Perkumpulan Putri Bali Sadar yang dilatarbelakangi banyak kaum putrid yang tidak dapat melanjutkan pelajaran di sekolah karena kematian orang tuanya atau yang menanggungnya. Di samping itu juga, banyak kaum putri muda maupun tua ingin bisa membaca dan menulis. Usaha-usaha yang dilakukan antara lain :
1.      Mengusahakan kerukunan di antara putrid-putri Bali dengan memberikan dasar peradaban Bali (menjujung tinggi kebudayaan Bali) yang sesuai dengan perkembangan zaman.
2.      Tolong-menolong di antara angota-anggotanya dalam suka dan duka.
3.      Memajukan pengetahuan dengan jalan membuka kursus-kursus pada waktu sore atau pagi.
4.      Membuat studie fonds untuk membantu anak-anak murid perempuan yang putus biaya sekolah.
5.      Memberikan kesempatan kepada putrid-putri Bali yang lewat umur untuk menambah pengetahuan membaca dan menulis.

Perkumpulan ini berjalan dengan baik sampai menjelang masuknya Jepang ke Bali bersama-sama dengan perkumpulan Bali Darma Laksana, di mana di antara anggota-anggota dari Putri Bali Sadar kemudian menggabungkan diri di dalam organisasi wanita pada zaman penjajahan Jepang dengan nama Fu Jin Kay.

j.        Persatuan Pemuda Bali Lombok (1938)
Pada tanggal 4 Desember 1938, atas prakarsa Made Taman dkk bertempat di Surabaya berhasil mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama Persatuan Pemuda Bali Lombok (PPBL). Anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar yang berasal dari Bali dan Lombok ditambah lagi bebrapa pemuda baik pria maupun wanita.
Tujuan utama dari PPBL yakni
-          mewujudkan persatuan di kalangan anggota-anggotanya, tidak ada perbedaan agama dan satu sama lain harus saling harga menghargai.
-          Berusaha meninggikan kecerdasan melalui pendidikan dengan berbagai usaha antara lain menerbitkan majalah, mengadakan pembacaan, dll

Tidak ada komentar: